15 Maret 2008

sebuah akhir dan sebuah awal

Bunuh Diri

Kenapa dia bunuh diri? Apa masalahnya? Hutang? Masalah kerja? Masalah hati?

Entahlah pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab. Aku hanya akan bisa menduga-duga. Aneh juga. Dua tulisanku berturut-turut tentang kematian. Tapi kali ini bunuh diri ini benar-benar terjadi.

Galungan siang hari. Telepon di rumah berdering. Ibu yang menjawab telepon itu. Jawabannya dan pertanyaannya memperdengarkan rasa khawatir. Aku keluar kamar, bertepatan dengan gamelan barong bangkung yang melintas di rurung dekat rumah.

Bli tut, bunuh diri. Ngematiang iba. Kata ibu, menyambutku. “Hah….!” Hanya itu ekspresiku. Pertanyaan selanjutnya adalah pertanyaan diatas, yang hanya terjawab oleh berbagai dugaan-dugaan penghilang rasa iba.

AKu tidak begitu kenal Bli tut. Hanya sebatas menyapa jika dia pulang ke rumah ibu saat odalan mrajan. Tapi aku dan istrinya adalah saudara sepupu. Paling tidak kami dulu sempat dekat. Dulu sekali, saat masih sama-sama SD.  Sejak menikah, dia jarang pulang.

Sampai sekarang aku belum tahu, bagaimana cara bli tut membunuh dirinya. Tapi bagaimanapun itu, dia begitu tega meninggalkan anaknya yang baru berumur 8 tahun dan istrinya yang sedang terkapar kekurangan darah dirumah sakit, karena bayinya lahir muda. Bagi dia, mungkin dengan ini setumpuk ataupun segudang permasalahan yang dia miliki telah hilang. Tapi bagi istrinya, yang saudara sepupuku, inilah satu lagi awal dari bertumpuk-tumpuk ataupun bergudang-gudang permasalahan  yang harus dia hadapi.

August 20, 2008 - Posted by feelglad | Feeling Blue | | No Comments Yet

No comments yet.

Leave a comment