15 Maret 2008

sebuah akhir dan sebuah awal

Kleng….Amahe Puk..!

Siapa yang berkata itu? Hanya seorang anak kecil umur 2 tahun dan baru belajar untuk lancar berucap. Ucapan itu sendiri keluar begitu spontan dari bibirnya, saat nasinya dihabisi oleh neneknya. Tentu saja yang diumpat adalah neneknya yang mengira Putu Agus, nama si kecil, sudah tidak berselera lagi.

DIumpat seperti itu, Nenek Agus marah bukan kepalang. “Nak cenik engken ne….aeng kasar sajan munyinne!” Itu katanya. Dilanjutkan dengan kalimat betapa capeknya dia menunggui Si Putu Agus makan dan tidak selesai-selesai.

Putu Agus ngambek, karena nasinya habis. Tentu saja, namanya juga anak kecil. Dia ngamuk sambil mengucapkan kata-kata yang terasa ajaib jika diucapkan oleh anak umur 2 tahun. Leak, nas kleng, amahe…berhamburan dari bibirnya, ditengah tangisnya yang menjerit-jerit.

Bukannya menenangkan, Nenek Agus malah makin marah. Ibu Agus ikut bergabung. Dia malah lebih galak dari pada sang nenek. Agus tiba-tiba menjerit-jerit. Mungkin dia disakiti, entahlah, karena aku hanya nguping dari tembok rumahku. “Suud ngomong keto…! Nak cenik leak nenenan. Neh baange nasi biin. Amah telahan…Suud ngeling! Awas biin dingeh ibuk ngomong kasar!”

Ufffhhh….aku merasa sesak. Agus masih anak-anak. Umur dua tahun, dia baru belajar dari apa yang dia lihat dan dia dengar disekitarnya. Jika Agus berkata leak, dia pasti mendengar, bukannya…pluk…begitu saja jatuh ke bibirnya. Jika Agus tidak hormat kepada neneknya, dia pasti melihat…bukannya alamiah meluncur begitu saja dari kendali otaknya.

Ibu Agus bertingkah seolah dia penguasa. Jujur…aku tiba-tiba membenci ibu Agus. Sekarang Agus memang kecil dan tidak berdaya. Tunggu saja jika Agus beranjak dewasa, sedang Ibu Agus beranjak renta…disanalah Ibu Agus harus bersyukur sejadi-jadinya, jika ternyata Agus berhasil menumbuhkan dirinya menjadi anak yang menyayangi orang tuanya.

PS: Tanpa bermaksud menyalahkan, mungkin Ibu Agus dulu juga dibegitukan oleh Nenek Agus, mungkin juga dulu Nenek Agus dibegitukan oleh KumpiĀ  Agus. Semoga nanti Putu Agus bisa memutus rantai ini.

August 9, 2008 - Posted by feelglad | tong sampah hari ini | | 9 Comments

9 Comments »

  1. he..he.. aku sudah memutus rantai tulah hidup itu
    aku kan sekarang anak baik, ga pernah mengumpat, ga pernah
    kasar, paling mencuri. padahal bapak komang, cucu komang ga
    ada begitu.

    Comment by komang | August 9, 2008 | Reply

  2. mencuri hati ya mang???

    Comment by feelglad | August 9, 2008 | Reply

  3. kleng luung sajan tulisane geg ary puk! :D

    Comment by anton | August 11, 2008 | Reply

  4. hoi….ton, kapan kita ke matahari terbit?

    Comment by feelglad | August 11, 2008 | Reply

  5. bani tak ajarin gini,” cakcang cang ci nah…” huahuhauhauuu

    Comment by luhde | August 12, 2008 | Reply

  6. nyen to? nyen to?
    jeg antem nas ne..!

    *kaburr…

    Comment by alitkarnajaya | August 19, 2008 | Reply

  7. to…memene…bli alit, aeng gaya pesan mare dadi meme..hehehe

    Comment by feelglad | August 20, 2008 | Reply

  8. salam kenal,

    mih sajaan kasar gati dingeh lamun nak cenik ngomong keto.
    mani kalo udah punya adik kecil ngumpatnya pake bahasa indonesia aj.

    hehehe

    soedra,
    cafeterianiks.wordpress.com

    Comment by holden | October 28, 2008 | Reply

  9. soedra, gimana kalo ngumpatnya pake bhs inggris, sepertinya lebih keren..hahahaha

    Comment by feelglad | November 1, 2008 | Reply


Leave a comment